DARI FOMO KE JOMO

Di era media sosial sekarang, istilah FOMO (Fear of Missing Out) makin sering kita dengar. Sederhananya, FOMO adalah perasaan takut ketinggalan sesuatu yang sedang dialami orang lain. Misalnya saat kita melihat teman upload liburan, ikut event seru, atau terlihat sangat produktif di media sosial, kita jadi merasa hidup kita kurang menarik atau merasa tertinggal. Menurut penelitian dari Andrew K. Przybylski dan timnya, FOMO muncul karena ada kebutuhan psikologis dalam diri manusia yang belum terpenuhi, seperti kebutuhan untuk merasa terhubung dengan orang lain. Hal ini juga dijelaskan dalam Self-Determination Theory dari Edward L. Deci dan Richard M. Ryan yang mengatakan bahwa manusia pada dasarnya butuh merasa dihargai, mampu, dan terhubung dengan orang lain. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, emosi seperti cemas, iri, atau tidak percaya diri bisa muncul.Tapi penting untuk diingat, tidak semua konten di media sosial itu buruk. Ada banyak juga konten yang justru bagus dan sehat untuk kesehatan mental. Contohnya konten yang membahas kesehatan mental, tips mengatur emosi, cerita tentang proses belajar, atau pengalaman seseorang dalam mencapai sesuatu secara realistis. Konten seperti ini biasanya terasa lebih jujur dan membuat kita sadar bahwa setiap orang punya proses yang berbeda. Konten seperti ini juga bisa membantu kita memahami bahwa hidup tidak selalu harus terlihat sempurna di media sosial.Sebaliknya, ada juga konten yang kurang sehat dan sering memicu FOMO. Misalnya konten yang hanya menampilkan sisi “paling sempurna” dari kehidupan seseorang: liburan mewah, pencapaian besar, atau gaya hidup yang terlihat selalu menyenangkan tanpa menunjukkan proses atau kesulitannya. Jika kita terlalu sering melihat konten seperti ini, tanpa sadar kita mulai membandingkan hidup kita dengan orang lain. Dari sisi psikologis, kebiasaan membandingkan diri secara terus-menerus bisa membuat seseorang merasa tidak cukup baik, merasa tertinggal, bahkan memicu stres dan emosi negatif.Di tengah fenomena FOMO, muncul juga istilah JOMO (Joy of Missing Out). Jika FOMO adalah rasa takut ketinggalan, maka JOMO justru kebalikannya: perasaan nyaman dan bahagia karena memilih tidak ikut dalam sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting bagi diri kita. JOMO mengajarkan kita untuk lebih fokus pada diri sendiri, menikmati waktu tanpa tekanan sosial, dan tidak selalu merasa harus mengikuti apa yang dilakukan orang lain di media sosial. Dengan memahami perbedaan antara FOMO dan JOMO, kita bisa lebih bijak menggunakan media sosial—memilih konten yang memberi dampak positif, menjaga kesehatan mental, dan tetap menikmati hidup tanpa harus selalu membandingkan diri dengan orang lain.

Categories:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *