Fomo: Fear Of Missing Out Dalam Konten Digital.

FOMO (Fear of Missing Out) merupakan perasaan takut atau khawatir tertinggal dari informasi, pengalaman, atau aktivitas yang sedang dialami oleh orang lain. Dalam konteks digital, fenomena ini semakin sering muncul karena media sosial memungkinkan seseorang untuk melihat berbagai aktivitas dan tren secara terus-menerus. Remaja sebagai pengguna aktif media sosial sangat mudah terpapar berbagai jenis konten yang menampilkan gaya hidup, kegiatan, maupun tren yang sedang populer. Kondisi tersebut dapat menimbulkan dorongan untuk selalu mengikuti apa yang sedang terjadi agar tidak merasa tertinggal dari lingkungan sosialnya.

Dalam ranah digital, munculnya FOMO juga berkaitan dengan fenomena social comparison, yaitu kecenderungan seseorang untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Ketika remaja melihat teman atau influencer membagikan pengalaman tertentu di media sosial, mereka dapat merasa bahwa orang lain memiliki kehidupan yang lebih menarik atau lebih “update”. Namun, perlu dipahami bahwa apa yang ditampilkan di media sosial biasanya merupakan bagian dari kehidupan yang memang sengaja dipilih untuk diperlihatkan kepada publik. Konten yang dibagikan umumnya adalah momen yang terlihat menyenangkan, menarik, atau dianggap mampu memberikan kesan positif bagi orang yang melihatnya. Oleh karena itu, pengguna media sosial sebenarnya hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan seseorang melalui konten yang mereka bagikan, sehingga tidak selalu mencerminkan kondisi kehidupan mereka yang sebenarnya.

Meskipun sering dianggap sebagai sesuatu yang negatif, FOMO tidak selalu memberikan dampak yang buruk. Dalam batas tertentu, FOMO dapat muncul sebagai rasa ingin tahu terhadap informasi atau tren baru yang sedang berkembang di lingkungan sekitar. Ketika seseorang masih mampu mengendalikan dirinya dalam mengonsumsi konten digital serta mempertimbangkan manfaat dari tren yang diikuti, kondisi tersebut masih dapat dikatakan sebagai bentuk FOMO yang sehat. Misalnya, ketika melihat konten dari remaja seusia yang sudah mulai membangun usaha kecil atau menghasilkan sesuatu dari kreativitas mereka di media sosial. Hal tersebut bisa menjadi motivasi bagi penonton untuk mencoba hal serupa sesuai dengan minat yang dimiliki, sehingga FOMO justru mendorong seseorang untuk melakukan hal yang lebih produktif.

Namun, FOMO dapat berubah menjadi tidak sehat ketika seseorang merasa tertekan untuk selalu mengikuti apa yang dilakukan orang lain di media sosial. Perasaan takut tertinggal dapat membuat individu terlalu sering membandingkan dirinya dengan orang lain dan merasa tidak cukup jika tidak mengikuti tren tertentu. Sebagai contoh, seseorang merasa ingin mengganti telepon genggam hanya karena melihat banyak teman atau influencer menggunakan produk tertentu yang sedang viral di media sosial, seperti tren penggunaan iPhone. Padahal, perangkat yang dimiliki masih berfungsi dengan baik dan keinginan tersebut muncul lebih karena dorongan untuk mengikuti tren daripada kebutuhan yang sebenarnya. Jika kondisi ini terjadi secara terus-menerus, hal tersebut dapat mempengaruhi kepercayaan diri serta cara individu dalam mengambil keputusan. Oleh karena itu, penting bagi remaja untuk memiliki kesadaran dalam mengonsumsi konten digital agar mampu membedakan antara mengikuti tren secara bijak dan sekadar mengikuti tren karena tekanan sosial.

Categories:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *